Kritik dan Esai Cerpen Mandikan Mayatku Dengan Tuak Karya M. Shoim Anwar


Kritik dan Esai Cerpen Mandikan Mayatku Dengan Tuak Karya M. Shoim Anwar


M. Shoim Anwar adalah salah satu sastrawan yang dimiliki Indonesia yang karyanya layak untuk diperhitungkan. Lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar master dan doktor dengan predikat cumlaude. Shoim banyak menulis diberbagai media massa berupa cerpen, novel, esai, dan puisi. Karya-karya cerpennya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D, Zawawi Imro, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sasta Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Ismail dkk), Black Forest (Kurator Budi Darma), New York Aftter Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dll.
            Salah satu cerpen karyanya yang sangat menarik untuk dibaca yaitu “Mandikan Mayatku dengan Tuak”. Cerpen tersebut bercerita tentang seorang laki-laki bernama Sogol yang sangat mencintai sebuah kebudayaan Jawa yaitu memainkan kuda lumping. Konstruksi kebudayaan dalam cerpen ini sangat bisa dihubungkan dengan teori new historicism. New historicism adalah karya sastra yang menekankan keterkaitan teks sastra dengan berbagai kekuatan sosial, ekonomi, dan politik yang melingkupinya.
            Kebudayaan yang harus kita ketahui bersama adalah budaya yang mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat dan memiliki nilai-nilai yang baik. Namun, banyak yang menjadikan budaya melenceng dari kodratnya dan menghasilkan pemahaman yang keliru terhadap masyarakat. Seperti yang diceritakan dalam cerpen tersebut di mana Sogol yang menyalahgunakan pemahaman kebudayaannya sebagai pemain kuda lumping. Karena penghasilannya sebagai pemain kuda lumping mengalami penurunan, dia beralih untuk membuka warung dan berjualan tuak. Akibat dari dirinya yang berjualan tuak tersebut dirinya ikut terbawa pengaruh untuk menikmati tuak tersebut hingga mabuk. Namun, ketika mabuk dan dalam keadaan tidak sadar, Sogol selalu berbicara bahwa ketika mati dirinya ingin mayatnya dimandikan dengan tuak seperti dalam kutipan berikut:
            “Ada satu lagi amanatku,” Sogol kembali angkat bicara.
            “Apa tadi?”
            “Amanat!”
            “Wih! Pakai amanat segala. Kayak  orang top saja,” sergah Kamit.
            “Ini serius. Di samping dimandikan dengan tuak, saya minta diiringi tabuhan kuda lumping saat saya dimandikan dan dibawa ke kubur.”
            Dari kutipan tersebut, permintaan yang nyeleneh dari Sogol tentu saja sangat melenceng dari kebudayaan yang ada. Kesenian kuda lumping hanya bisa digunakan sebagai sebuah pertunjukkan untuk bersenang-senang dan tidak digunakan untuk mengiringi kematian seseorang yang merupakan kegiatan sakral dengan kegiatan keagamaan. Namun, karena amanat Sogol yang seperti itu membuat teman-teman maupun warga kampungnya bingung untuk memandikan mayatnya. Sesuai syariat agama, mayat tersebut harus dimandikan dengan air bersih dan dibacakan doa-doa, namun di sisi lain amanat Sogol yang meminta mayatnya dimandikan dengan air tuak dan tabuhan kuda lumping membuat mereka bingung karena amanat terakhir dari Sogol tersebut sebelum dirinya meninggal.
            Pesan moral yang bisa kita ambil dari cerpen tersebut adalah kita harus mampu memahami sebuah kebudayaan. Jika kebudayaan tersebut positif maka kita bisa mengikutinya, namun jika kebudayaan tersebut negatif atau menyimpang dari ajaran agama, maka kita berhak untuk tidak mengikutinya. Selain itu, ketika sebuah amanat dari seseorang tersebut positif kita berhak untuk melaksanakannya. Tetapi, jika amanat itu bersifat negatif kita berhak menolaknya.
            Dalam cerpen “Mandikan Mayatku dengan Tuak” ini memiliki kelebihan yaitu dari ceritanya yang sangat menarik menceritakan sebuah kebudayaan dan alur cerita yang menarik. Tetapi kekurangan dalam buku kumpulan cerpen tersebut masih banyak tulissan-tulisan yang salah dalam penulisan maupun ejaan dan juga kesalahan dalam penulisan yang membuat pembaca sedikit terganggu untuk membacanya.

Komentar

Postingan Populer